Kamis, 11 Oktober 2012 - 00:25:36 WIB
Menelisik Keberadaan Sastra Using (1)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Sosial - Dibaca: 911 kali

Membicarakan Sastra Using, sama halnya dengan membecirakan Bahasa Using sebagai Bahasa tersendiri. Banyak orang yang ragu, apakah ada Sastra Using. Kalau ada, terus apa bentuk karyanya. Dibanding dengan Sastra Daerah lain yang berdekatan, seperti Jawa, Bali dan Madura, memang Sastera Using tidak sekaya ketiga Sastra daerah itu. Namun, bahwa ada tersendiri sastra Using, inilah yang perlu diungkapkan ke permukaan terlebih dahulu.

Sebagai kawasan yang berkembang di luar Keraton, tradisi Kesusastraan di Banyuwangi banyak menggunakan media lisan. Sehingga, agak kesulitan dan perlu kerja keras untuk merekonstruksi kehidupan Sastra Using pada masa silam melalui bukti-bukti tertulis. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia (1987: 399) disebutkan: Sampai abag ke-18 masih ada penganut Agama Hindu dan bahkan aliran sastra yang disebut Aliran Banyuwangi. Misalnya naskah Sri Tanjung dan naskah Sang Satyawan berasal dari aliran itu. Pada masa Majapahit kedua cerita itu sudah terkenal, karena dipahat di teras Pendopo Penataran di Blitar.

Dari pernyataan itu bisa disimpulkan, bahwa Sastra di Banyuwangi (dulu Blambangan) pernah mengalami kejayaan, dengan tampil beda dibanding karya sastra sejamannya. Ciri yang menonjol dari Sastra Banyuwangi adalah tradisi lisannya, seperti dikemukakan Van Stein Callenfels berupa ulasan kritis terhadao kitab Sudamala. Bahwa dalam permulaan atau tengah kitab Sudamala, diteruskan secara lisan. (Kalangwan, Zoermulder 1985: 57). Penggunaan kata mangke atau mangko yang sering muncul dalam Sudamala, terkesan kaku dan kurang luwes. Bahkan bila dibaca keseluruhan, dalam karya itu (Sudamala) terkesan banyak varian. Mungkin ini adanya kesalahan dari tukang cerita, karena bisa ditambah atau berkurang saat karya itu disampaikan.

Pernyataan van Stein Callenfels ini diperkuat oleh Poerbatjaraka (1952: 81-81), jika kita Sudamala itu dianggap buatan orang Desa. Cara mencari Ding-Dong (persajakan) hanya menggunakan kata mangke dan mangke saja. Bahkan Poebatjarakan mengaku kesulitan menamakan Tembang dalam setiap pupuh di kitab Sudamala itu, karena tidak sama dengan pakem Jawa yang berlaku saat itu. Namun Zoemulder memastikan, jika Sumala dan Sri Tanjung itu termasuk dalam jenis Kidung. Meski ia kesulitan menyebut, apakah keduanya termasuk teks sastra atau bukan. Ciri yang paling menonjol adalah sifat kerakyatan dan tidak mempunyai latar belakang Keraton. (1985: 540).

Nah dalam perkembangan selanjutnya, ternyata gaya dan cara pengucapa Sastra Using ini tidak jauh berbeda dengan yang disebutkan oleh para pakar Satra Jawa Kuno itu. Penggunaan kata eman, jare paman, alak emas, a-ang dan e-eng, untuk sekedar menggenapi Guru Wilangan (jumlah kata), atau guru lagu (persamaan bunyi).

Apabila sudah yakin bahwa Sastra Using memang ada, tentu kita masih meragukan, jika hanya ditandai oleh tiga buah karya Sang Satyawan, Sudamala dan Sri Tanjung saja. Ternyata setelah Perang Puputan Bayu tahun 1772, mulai ada sejumlah karya Sastra di bumi Blambangan ini dalam bentuk tulis, yaitu Babad Blambangan, Babad Tawang Alun, Babad Wilis dan cerita-cerita tentang Kerajaan Macan Putih. Dalam perkembangan selnjutnya, Sastra Using kembali berkutat dalam tradisi lisan. Mungkin ini tidak bisa dilepaskan kondisi saat itu, Blambangan yang dijadikan bulan-bulanan Mataram dan selanjtnya oleh Belanda. Karya Sastra Using lisan yang paling menonjol adalan Podho Nonton.

PODHO NONTON

Podho nonton
Pundak sempal ring lelurung
Ya pendite pundak sempal
Lambeane para putra
Kejala ring kedung sutra
Tampange tampang kencana

Kembang menur
Melik-melik ring bebentur
Sun siram-siram alum
Sun pethik mencirat ati

Lare angon
Gumuk iku paculono
Tandurono kacang lanjaran
Sak unting oleh perawan

Kembang gadung
Sak gulung ditawa sewu
Nora murah nora larang
Hang nowo wong adol kembang
Sun barisno ring Temenggungan
Sun iring payung agung
Lambeane membat mayun

Kembang abang
Selebrang tibo ring kasur
Mbah Teji balenono
Sun enteni ring paseban
Dung Ki Demang mangan nginum
Seleregan wong ngunus keris
Gendam gendis kurang abyur

Bentuk dan isi syair Podho Nonton ini sangat bebas, tidak terikat guru lagu dan guru wilangan seperti yang lazim dalam Sastra Jawa. Syair tersebur sudah tidak diketahui nama penciptanya, namun menjadi pakem dalam setiap ritual Seblang dan pementasan kesenian Gadrung. Namun alamrhum Hasan Ali (Budayawan Banyuwangi) kepada penulis pernah mengatakan, jika syair Podho Nonton itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Selain itu masih ada lagi karya Satra Using Klasik, yaitu Seblang Lukinta, Sekar Eleg, Tajog, Kabor, Terong Condong, Bebarongan, Tanjung Burung dan masih banyak lagi.

Akibat mengandalan perkembangan tradisi lisan, adanya perbedaan satu dengan lainnya juga mulai muncul. Seperti syair podho nonton tadi, bisa berkembang menjadi beberapa judul, karena hanya dinyanyikan dalam satu bait dan diberi judul tersendiri. Padahal, karya itu merupakan satu kesatuan. Sehingga dalam masyrakat Using pada waktu itu ada yang menyebut judul Kembang Menur; Kembang Gadung dan Kembang Abang. Inilah yang disebut Suripan Sadi Hutomo (1991:12) sebagai kelemahan sastra lisan, karena dalam perjalanan dari generasi ke generasi berikutnya adan mudah terjadi penyimpangan dan penyelewengan kosa kata yang akhirnya mempengaruhi isinya.

Sastra Using Klasik kebanyakan disosialisasikan dalam ritual Seblang, baik yang di Oleksari maupun Bakungan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kesenian Gadrung juga masih menjadikan Syair Podho Nonton sebagai pakem pembukan, serta diakhiri dengan Seblang Subuh. Pada kesenian Gadrung inilah, kemudian muncul karya Satra Using yang lebih baru. Meski dalam sosialisasinya masih menggunakan lisan, tetapi sudah dalam bentuk rekaman kaset. Sehingga penyimpangan teks dan salah ucap bisa ditekan, kendati tdaik bisa seratus persen. Ini semata-mata akibat mutu rekaman yang kurang bagus, sehingga harmonisasi vokal dan instrumen musik tidak imbang. Sehingga pendengar, juga masih meraba-raba jika ada kosa kata yang tidak jelas diucapkan.

Dari segi tema memang mulai ada pergeseran, karfena sesuai dengan situasi. Jika sebelumnya banyak bercerita tentang pembberonakan, kepahlawan dan hakekat hidup, pada kesenian Gadrung syairnya banyak bercerita tentang percintaan, selain masih mengembangkan tema kepahlawan dan adat istiadat yang berlaku dalam kehidupan masyrakat Using.

Dari jenis nyang digunakan, tidak lagi dalam bentuk Tembang secara utuh dan menyeluruh. Namun lebih banyak dalam bentuk karya Puisi, dengan pola memertahankan puisi tradisional seperti dalam bentuk Wangsalan (teka-teki), Basanan (pantun), Syiiran (syair) dan ungkapan-ungkapan khas Banyuwangi. Ada beberapa karya Sastra Lisan yang terbaru dan sering dibawakan kesenin Gandrung, yaitu Opak Apem; Keok-Keok; Erang-Erang; Thethel-Thethel; Kusir-Kusir; Gurit Mangir; Embat-Embat; Sawunggaling; Jaran Dawuk dan masih banyak lagi. (bersambung)

Penulis: Hasan Sentot

,Asal Parijatah Kulon (P4KU). Pendidikan SD hingga MTsN Srono, Banyuwangi, kemudian SMAN3 di Kediri. Jenjang pendidikan berikutnya di Jember, hingga akhirnya mencari nafkah di kota Pahlawan. hasan.sentot@yahoo.co.id hasansentot@gmail.com

Foto: http://kenali-negrimu.blogspot.com



BERITA LAINNYA

21 Komentar :

Obat Herbal Kanker Serviks
09 Mei 2014 - 16:02:42 WIB

Jangan Pernah Ada Kata Menyerah, Sebelum Kita Melakukan Sesuatu Yang Belum Pernah Kita Coba.
Semoga Bermanfaat..:)

http://goo.gl/kajYnY
http://goo.g l/uCKt4g

puisi kasih sayang
22 Mei 2014 - 08:28:50 WIB

webnya sangat bagus dan keren keren isi beritanya
http://cinta009.blogspot.com/

pulau harapan livingsocial
15 Oktober 2014 - 06:38:52 WIB

Hi, i think that i saw you visited my weblog thus i came to “return the favor”.I am trying to find things to improve
my website!I suppose its ok to use some of your ideas!!
http://letsgoto.url.ph/pulauharapan26499
Jasa SEO
16 Oktober 2014 - 04:18:16 WIB

I'm really enjoying the design and layout of
your site. It's a very easy on the eyes which makes it much more pleasant for me to
come here and visit more often. Did you hire out a designer to create
your theme? Exceptional work! http://tinyurl.com/maj6rqk
Jasa SEO
17 Oktober 2014 - 04:38:53 WIB

Hi, I do think this is an excellent site. I stumbledupon it ;) I will come back once again since i have book marked
it. Money and freedom is the best way to change,
may you be rich and continue to guide others.
http://blogpulautidung.hol.es/
berkunjung ke Pulau Pari
18 Oktober 2014 - 01:36:06 WIB

Hello! I've been following your blog for some time now
and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from Porter Texas!
Just wanted to tell you keep up the good job! http://blog-wisata-pulau-pari.hol.es/
Jasa Seo
21 Oktober 2014 - 00:25:03 WIB

I do consider all of the ideas you have presented on your post.

They're really convincing and can definitely work.
Still, the posts are too quick for starters. May just you please lengthen them a little from next
time? Thank you for the post. http://artikelpulautidung.hol.es/
Jasa Buat Web
21 Oktober 2014 - 01:19:38 WIB

Hi there, all is going fine here and ofcourse every one is sharing facts, that's genuinely excellent, keep up writing.
http://jasapembuatanwebsite.over-blog.com/
Jasa SEO Murah
22 Oktober 2014 - 12:16:54 WIB

I'm really enjoying the design and layout of your website.
It's a very easy on the eyes which makes it much more enjoyable
for me to come here and visit more often. Did you hire out a developer to create your theme?
Excellent work! http://adellnorthcutt.wordpress.com/
Jasa SEO Terpercaya
22 Oktober 2014 - 19:36:14 WIB

Sweet blog! I found it while searching on Yahoo News. Do you have any tips on how to get listed in Yahoo News?
I've been trying for a while but I never seem to get there!
Cheers http://adellnorthcutt.wordpress.com/
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | Next > | Last >>

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)